Mukomuko – Kebijakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dilakukan oleh PT Karya Sawitindo Mas (KSM) menuai sorotan. Sedikitnya sekitar 25 orang pekerja dilaporkan terdampak PHK yang diduga dilakukan secara sepihak oleh perusahaan pengolahan kelapa sawit (PKS) tersebut.
Berdasarkan dokumen yang beredar, PHK dilakukan dengan alasan efisiensi akibat penurunan produktivitas perusahaan. Namun di lapangan, berkembang informasi bahwa kondisi tersebut diduga berkaitan dengan berkurangnya pasokan Tandan Buah Segar (TBS) yang menjadi bahan baku utama operasional pabrik.
Sejumlah pihak menyebutkan bahwa minimnya pasokan buah sawit membuat aktivitas produksi PKS tidak berjalan optimal. Kondisi ini diduga berdampak langsung terhadap kemampuan perusahaan dalam menutup biaya operasional yang cukup tinggi.
Tokoh pemuda setempat, Irwasnyah (Irawan), yang sebelumnya pernah terlibat sebagai bagian dari perusahaan, turut angkat bicara. Ia menilai bahwa kondisi saat ini tidak lepas dari dinamika internal perusahaan, termasuk hubungan dengan para mitra pemasok.
Menurutnya, selama ini ia memiliki peran dalam membantu terbentuknya jaringan pasokan bahan baku. Namun setelah ia tidak lagi terlibat, pasokan dari usaha RAM (loading ramp) yang dikelolanya tidak lagi disalurkan ke PT KSM.
Hal ini diduga turut memengaruhi ketersediaan bahan baku di pabrik.
“Ketika pasokan berkurang, tentu operasional ikut terganggu. Ini harus menjadi bahan evaluasi bersama,” ujarnya.
Di sisi lain, para petani juga tengah menghadapi kondisi harga TBS yang melemah, sehingga memperburuk rantai pasok ke PKS. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan operasional perusahaan.
Beberapa kalangan bahkan menduga bahwa kondisi internal perusahaan saat ini sedang tidak stabil. Namun demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pihak manajemen PT Karya Sawitindo Mas terkait isu tersebut.
Masyarakat berharap adanya klarifikasi terbuka dari perusahaan, sekaligus penyelesaian yang adil bagi para pekerja yang terdampak PHK. (Red(






